Rabu, 29 Maret 2017

Naskah Khutbah Jum'at: Nasehat Rasulullah SAW Tentang Bekal Meniti Hidup Sejati

Naskah Khutbah Jum’at:
NASEHAT RASULULLAH SAW KEPADA ABU DZARR AL-GHIFARI:
BEKAL MENITI HIDUP SEJATI
Oleh: Mohamad Kholil, S.S., M.S.I.

(Disampaikan di Masjid Kampus Hijau Kaplongan, Karangampel, Kab. Indramayu,
Jum’at 24 Februari 2017 M)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Khutbah Pertama:

الحَمْدُ لِلهِ الْمُبْدِئِ الْمُعِيْدِ, الَّذِي خلَقَ الْإِنْسَانَ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيْدٌ, نَحْمَدُهُ وَنَشْكُرُهُ شُكْرًا مَقْرُوْنًا بِالتَّكْبِيْرِ وَالتَّسْبِيْحِ وَالتَّحْمِيْدِ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَافِيُّ الْوَعِيْدِ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِدِيْنِ التَّوْحِيْدِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مَن كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، سيدِنا محمد بن عبد الله وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَن تَبِعَ هُداه، أَمَّا بَعْدُ، فيا أيّها الحاضرون, اتّقوا اللهَ حقَّ تُقاته, ولا تموتنّ إلاّ وأنتم مسلمون.
Hadirin sidang Jum’at yang semoga dirahmati Allah,

Segala puji dan rasa syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kita dapat kembali berkumpul di masjid ini dalam keadaan sehat baik jasmani maupun ruhani. Dan berkumpulnya kita semua di masjid ini, semoga menjadi pertanda masih adanya iman dan Islam yang terpatri di dalam hati. Ini semua tentu tak lain merupakan hidayah dan ‘inayah-Nya yang juga patut kita syukuri, dengan cara senantiasa bertaqwa kepada Allah Rabbul ‘Izzati, yakni menunaikan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sikap taqwa yang kita miliki itu sudah seharusnya kita jaga dan pelihara dengan istiqamah sehidup semati, seraya berharap semoga kelak pada saatnya kita semua mampu menutup usia dan meninggalkan dunia fana’ ini dalam keadaan husnul khatimah. Karena kebaikan itu akan dianggap baik manakala ia dilakukan secara kontinyu dan istiqamah. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Imam al-Ghazali:

لا خيرَ في خيرٍ لا يدومُ بل شرٌّ لا يدومُ خيرٌ مِن خيرٍ لا يدومُ
“Tak ada baiknya kebaikan yang tidak dilakukan terus menerus. Bahkan keburukan yang tidak dilakukan terus menerus, itu lebih baik dari pada kebaikan yang dilakukan tidak terus menerus.”

Hadirin Jama’ah Jum’at rahimakumullâh,

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam ad-Dailamiy, Rasulullah SAW pernah berpesan kepada salah satu sahabatnya, Abu Dzarr al-Ghifari, seorang sahabat Nabi yang dikenal hidupnya sangat sederhana, beliau bernama asli Jundub bin Junadah. Kepada sahabatnya itu Rasulullah SAW bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ، جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ اْلبَحْرَ عَمِيْقٌ، وَخُذِ الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ، وَخَفِّفِ اْلحِمْلَ فَإِنَّ العُقبَةَ كَئُوْدٌ، وَأَخْلِصِ اْلعَمَلَ فَإِنَّ النَاقِدَ بَصِيْرٌ

"Wahai Abu Dzarr, perbaharuilah perahu atau bahteramu karena samudera itu sangat dalam; bawalah bekal yang cukup karena perjalananmu akan sangat jauh; ringankanlah beban bawaanmu karena lereng bukit yang akan kau daki akan sulit dilalui; dan ikhlaslah dalam beramal karena Allah Yang Maha Teliti senantiasa mengawasi."

Pesan Rasulullah kepada Abu Dzarr ini sebagaimana tercantum dalam kitab Nashaihul ‘Ibad yang ditulis oleh Syaikh Nawawi al-Bantani. Pesan tersebut disampaikan oleh Nabi dalam bentuk kiasan yang maknanya tersirat, dan hakikatnya tidak hanya ditujukan kepada Abu Dzarr, melainkan juga kepada kita semua selaku umatnya.

Pesan pertama adalah perintah agar memperbaiki perahu. Maksudnya adalah menata niat di dalam qalbu. Karena niat merupakan hal yang paling mendasar dalam setiap perbuatan manusia. Ibarat seseorang yang hendak pergi berlayar, ia harus memastikan terlebih dahulu kondisi kapal atau perahunya benar-benar siap dan aman; memeriksa kondisi mesin, mempertimbangkan cuaca, dan lain-lain. Begitu pula kaitan antara perbuatan dan niat. Seseorang yang ingin melakukan suatu perbuatan hendaknya menata niat dan tujuannya yang baik terlebih dahulu. Selain untuk memantapkan langkah, niat juga akan membimbing seseorang agar tetap fokus pada arah yang dituju, yakni semata-mata mencari ridha Allah SWT.

Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Umar bin Khatthab RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى
Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai apa yang ia niatkan.”

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Niat adalah pekerjaan hati. Dalam ketentuan fiqih, ia menjadi bagian dari rukun qalbiyah yang menjadi prasyarat sah atau tidaknya suatu ibadah. Niat sifatnya tersembunyi di dalam hati, karenanya tak ada yang mengetahui niat seseorang selain dirinya sendiri dan Allah SWT. Itulah sebabnya, perbuatan yang nampak sebagai ritual ibadah, sebagus apapun dilakukan, apabila tidak dilandasi niat yang benar karena Allah, maka akan sia-sia belaka. Sebaliknya, perbuatan yang mungkin kita anggap “sepele” dan biasa namun jika disertai niat yang mulia bisa jadi akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Sebagaimana hal ini diterangkan oleh Syaikh Burhanul Islam az-Zarnauji:

كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الدّنْياَ يَصِيْرُ بِحُسْنِ النِيَّة مِن أَعْمَالِ الآخِرَة، كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الأخرة يَصِيْر مِن أَعْمَالِ الدُّنْيَا بِسُوْءِ النِيَّة
“Banyak sekali perbuatan yang secara dzahir tampak sebagai perbuatan duniawi, namun berubah menjadi perbuatan ukhrawi (bernilai ibadah) lantaran niat yang baik. Sebaliknya, banyak perbuatan yang secara dzahir tampak sebagai perbuatan ukhrawi namun berubah menjadi perbuatan duniawi (tidak bernilai ibadah sama sekali) lantaran niatnya yang buruk.”

Hadirin sidang Jum’at yang dirahmati Allah,

Kemudian pesan Rasulullah yang kedua kepada Abu Dzarr adalah, agar mempersiapkan bekal yang cukup untuk menempuh perjalanan yang sangat panjang dan jauh, yakni perjalanan kita di akhirat kelak. Oleh karena perjalanan yang akan kita tempuh adalah perjalanan akhirat, maka bekalnya pun bukan berupa bekal duniawi atau harta benda dan materi yang sementara kita miliki. Satu-satunya bekal yang dapat kita bawa serta ke akhirat hanyalah amal kebaikan yang kita lakukan. Selebihnya, baik rumah, perusahaan, tabungan, kendaraan, tanah, sawah dan ladang, anak dan istri, maupun pangkat, jabatan dan kedudukan semuanya akan kita tinggalkan. Di akhirat itulah akan berlangsung hari pembalasan (yaumul hisab) atas segenap perilaku kita selama hidup di dunia. Bagi yang tak cukup bekal mereka pastinya akan menyesal, seperti digambarkan dalam firman-Nya (QS. al-Fajr: 24):

يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Duhai, alangkah baiknya andaikan dahulu aku mengerjakan (amal saleh) sepanjang hidupku.” 

Hadirin hadaniyallahu wa iyyakum,

Perlu juga kita pahami, bahwa cakupan ibadah dan amal saleh sangatlah luas. Tidak hanya meliputi ibadah ritual semata, seperti shalat dan puasa. Namun juga termasuk perbuatan yang biasa dilakukan dalam keseharian kita, seperti menolong orang lain yang sedang kesusahan, menyantuni fakir miskin, menjenguk orang sakit, merajut tali silaturahmi, menghormati orangtua dan guru, mengikuti jam’iyah pengajian dan majelis ta’lim, menjaga kebersihan lingkungan, memperbaiki sarana ibadah dan pendidikan, dan lain sebagainya. Singkatnya, cakupan ibadah tidak hanya terkait hablun minallah (hubungan vertikal dengan Allah), namun juga termasuk hablun minannas (hubungan horizontal dengan sesama manusia) dan hablun ma’al bi’ah (hubungan dengan lingkungan, termasuk di dalamnya hewan dan tetumbuhan). Semua itu akan bernilai ibadah manakala dilakukan dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah SWT.

Jama’ah Jum’at rahimakumullâh,

Pesan Rasulullah yang kedua ini juga berkaitan dengan pesan beliau selanjutnya, yakni perintah agar kita meringankan beban bawaan saat menaiki lereng bukit yang terjal dan berliku. Ini merupakan kiasan, yang maksudnya adalah agar kita tak membawa terlalu banyak beban duniawi yang akan menghambat dan membebani langkah kita kelak di akhirat. Dalam hal ini Rasulullah mengingatkan, agar kita tak terpedaya oleh godaan nikmat duniawi, karena semakin banyak nikmat duniawi yang kita miliki, akan semakin banyak pula beban pertanggungjawaban di kehidupan akhirat nanti. Karena alam akhirat adalah tempat dihisab dan dipertanggugjawabkannya segala apapun yang kita miliki.

Kemudian pesan Nabi yang keempat adalah: akhlish al-‘amal, yakni agar kita senantiasa memurnikan setiap amal yang kita lakukan untuk tujuan semata-mata mencari ridha Allah SWT. Karena ikhlas merupakan “ruhul ‘ibadah” yang akan menentukan apakah suatu amal bernilai ibadah atau tidak di sisi Allah SWT. Dengan kata lain, ibadah yang tanpa dilandasi keikhlasan itu laksana jasad mati yang tak bernyawa. [ ] 

Dan sebagai penutup khutbah siang hari ini, khususnya untuk para pelajar dan santri, hendaknya kembali menata dan memperbaiki motivasi dan niat dalam aktifitas kalian mondok dan bersekolah. Agar, selain cita-cita dan kepentingan masa depan kalian diharapkan bisa tercapai, diharapkan juga setiap proses rutinitas yang kalian tempuh selama di sekolah atau pun di pesantren akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Niat yang benar tentunya harus disertai juga dengan sikap dan prilaku yang benar, karena niat tanpa disertai perbuatan nyata dalam bentuk ikhtiar dengan cara belajar dengan sungguh-sungguh hanya akan jadi angan-angan yang tiada artinya.

Perlu juga kalian ketahui, bahwa tugas suci atau “jihad” kalian selaku pelajar dan santri saat ini bukan dengan mengangkat senjata memerangi musuh di medan pertempuran, akan tetapi dengan mengangkat pena, berperang melawan kebodohan yang bersemayam di dalam diri kalian sendiri. Karena antara keduanya; antara jihad mengangkat senjata dan jihad dengan ujung mata pena, sama-sama menempati posisi mulia di sisi Allah SWT, sebagaimana dijelaskan oleh Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adabul ‘Alim wal Muta’allim:
يوزن يوم القيامة مداد العلماء ودم الشهداء
“Kelak pada hari kiamat akan ditimbang (disetarakan) setiap tetes tinta para ulama (orang-orang yang menggeluti ilmu pengetahuan) dan darah para syuhada (orang-orang yang mati syahid dalam berperang di jalan Allah”.    

Demikian khutbah ini kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita sekalian.


أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم.

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.



Khutbah Kedua:

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. (أَمَّابَعْدُ) فَيَا أَيُّهاَ الحاضرون: اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ, وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. واعلموا أنَّ الله أمَركم بأمرٍ بدأ فيه بنفسه وثـنّى بملآئكته بقدسه, وقال تعالى إنَّ الله وملآئكته يصلّون على النبى يآأيها الذين آمنوا صلّوا عليه وسلّموا تسليما. اللهمّ صلّ على سيدنا محمد وعلى أنبيآئك ورسلك وملآئكتك المقرّبين, وارضَ اللهمّ عن الخلفاء الراشدين أبي بكر وعمر وعثمان وعليّ وعن بقيّة الصحابة والتابعين وتابعي التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين, وارض عنّا معهم برحمتك ياأرحم الراحمين.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاً طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاَّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ. رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عبادَ الله! إنَّ الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتآء ذي القربى وينهى عن الفحشآء والمنكر والبغي يعظكم لعلّكم تذكّرون, واذكروا الله العظيم يَذْكُرْكُمْ واشكروه على نِعَمِهِ يَزِدْكم واسئلوه من فضله يُعْطِكم, وَلَذِكرُ اللهِ أكبر.



2 komentar: