Rabu, 22 Januari 2025

Naskah Khutbah Jum'at: "Mengkaji Bulan Rajab"

Khutbah Pertama:

الحمد لله ربّ الأرض وربّ السمآء. نحمده تبارك وتعالى على النعمآء والسرّآء. ونستعينه على البأسآء والضرّآء. ونعوذ بنور وجهه الكريم من جهد البلآء, ودرك الشقآء, وشماتة الأعدآء. أشهد أن لا إله إلا الله وحده ليس له أندادا ولا أشباه ولا شركآء. وأشهد أن سيدنا محمدا خاتم الرسل والأنبيآء. اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحابته الأجلآء. أمّا بعد, فيا عبادَ الله أُوصِيكم ونفسي بتقوى الله وطاعتِه لعلّكم تُفلِحون.

Hadirin sidang Jum’at rahimakumulllah, 

Saat ini kita telah berada di minggu terakhir bulan Rajab, salah satu bulan yang dalam Islam sering disebut al-asyhur al-fadhilah (bulan yang sangat utama) di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban, disebut juga al-asyhur al-hurum (bulan yang dimuliakan) selain dzulqa’dah, dzulhijjah dan muharram. Pada bulan ini terdapat beberapa peristiwa bersejarah yang patut diingat oleh umat Islam, di antaranya Sayyidah Siti Aminah mulai mengandung Nabi Muhammad SAW, terjadinya perang Tabuk (10 Rajab 9 H), ditaklukkannya Baitul Maqdis Palestina oleh Shalahuddin Al-Ayyubi (27 Rajab 583 H), wafatnya Imam Syafi'i (204 H dalam usia 54 Tahun) dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (101 H, dalam usia 39 Tahun), dan lahirnya Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU) pada 16 Rajab 1344 H yang tahun ini genap berusia 102 tahun.

Pada bulan ini pula terdapat sebuah peristiwa maha penting dalam sejarah peradaban umat manusia, yakni Isra’ Mi’raj yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW. Peristiwa ini terjadi pada 1400-an tahun yang silam. Isra’ Mi’raj merupakan sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa, di mana nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya akan tetap aktual dan abadi sepanjang masa. Maka adalah hal yang wajar jika kemudian peristiwa Isra’ Mi’raj itu selalu diperingati oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia, serta dijadikan turning point untuk mengaktualisasikan kembali nilai-nilai penting di dalamnya. Di dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman:

Native Banner 1سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِى أَسْرَيٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ، إِنَّهُ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبِصِير

Artinya: Maha suci Allah yang telah mengisra'kan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang kami berkahi sekelilingnya, untuk kami tunjukkan kepadanya tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Kami. Sesungguhnya (Allah) Maha Mendengar dan Melihat.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah,

Bulan Rajab adalah bulan istimewa. Dalam kitab I‘anatut Thalibin (karangan Sayyid Abu Bakar Syatho, salah satu guru Kiai Hasyim Asy’ari saat menimba ilmu di Makkah), dijelaskan bahwa “Rajab” merupakan turunan dari kata “at-tarjib” (الترجيب) yang berarti mengagungkan atau memuliakan. Masyarakat Arab zaman dahulu memuliakan Rajab melebihi bulan lainnya. Rajab biasa juga disebut “al-ashabb” (الأصب) yang berarti “yang mengucur” atau “menetes”. Dijuluki demikian karena derasnya tetesan kebaikan pada bulan ini. Bulan Rajab juga dikenal dengan sebutan “al-ashamm” (الأصم) atau “yang tuli”, karena tidak terdengar gemerincing senjata pasukan perang pada bulan ini. Julukan lain untuk bulan Rajab adalah “ar-rajam” (الرجم) yang berarti “melempar”. Dinamakan demikian karena musuh dan setan-setan pada bulan ini dikutuk dan dilempari sehingga mereka tidak jadi menyakiti para wali dan orang-orang saleh.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj, apabila kita kaji, setidaknya ada 4 nilai penting yang dapat kita gali:

Pertamaperistiwa Isra’, yang berarti perjalanan Nabi dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Peristiwa itu memberikan isyarat kepada kita, bahwa manusia perlu membangun komunikasi sosial/horizontal. Pada peristiwa Isra’, perjalanan Nabi bersifat horizontal: dari bumi yang satu ke bumi lainnya, yang disimbolkan dari masjid ke masjid, yakni dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Maka, masjid yang merupakan “simbol” pusat kegiatan keagamaan umat Islam, harus pula ditransformasikan nilai-nilainya di tengah kehidupan sosial atau prilaku bermasyarakat secara nyata. Umat Islam harus mampu membangun relasi sosial (hablun minan-nas) yang harmonis di tengah-tengah kehidupannnya. Karena telah disebutkan sendiri oleh Nabi: al-dînu mu’amalah, bahwa agama itu salah satu inti ajarannya adalah bagaimana seseorang harus berinteraksi atau berhubungan secara baik dengan sesamanya.

Dengan kata lain, kualitas keislaman seseorang tidak cukup hanya diukur ketika ia berada di dalam masjid. Akan tetapi, bagaimana nilai-nilai ibadah dan kekhusyukan yang telah dilakukannya di dalam masjid itu, diwujudkan pula di luar masjid, yakni ketika berada di lingkungan kerja maupun di tengah-tengah masyarakatnya, melalui jalinan interaksi, silaturahmi dan komunikasi yang baik dengan sesama. Inilah yang disebut dengan “kesalehan sosial”. Sebab, tidak jarang sewaktu seseorang berada di dalam masjid ia tampak khusyuk beribadah, namun begitu keluar masjid, nilai-nilai kekhusyukan ibadahnya itu ia tanggalkan. Akibatnya, di tempat kerja maupun di lingkungan masyarakatnya ia masih kerap melakukan prilaku-prilaku menyimpang, yang justeru bertentangan dengan nilai-nilai ibadah yang dilakukannya, seperti terus menerus melakukan kecurangan, penipuan, membicarakan aib dan kejelekan orang lain, menebar fitnah dan permusuhan, hingga memelihara perpecahan dan konflik berkepanjangan. Model beragama seperti itu jelas merupakan wujud keberagamaan yang semu. Karena salah satu wujud keberagamaan yang hakiki, ditandai dengan kemampuan seseorang menjalin komunikasi dan interaksi sosial yang baik dengan sesama, sesuai akhlak luhur yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana telah diajarkan pula oleh Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) dalam salah satu “piwulang” nya kepada Raden Sa’id (Sunan Kalijaga): “marsudi urip rukun, nuju nur alam cahyaning sejati” (bahwa menjalin hubungan baik dengan sesama, adalah wujud kematangan spiritual dan kesempurnaan iman seseorang).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kedua, peristiwa Mi’raj, di mana Nabi dari Masjidil Aqsha naik ke Sidratil Muntaha berjumpa langsung dengan Allah SWT. Perjalanan spiritual ini memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa manusia dalam menjalani kehidupannya harus melakukan upaya “transedensi”, yakni mendekatkan diri kepada Tuhannya: Allah SWT, agar terhindar dari jebakan-jebakan materi-duniawi yang seringkali membuat manusia kalap dan lupa diri.

Sebagai makhluk yang disebut homo religius, manusia harus mampu membangun relasi yang harmonis dengan Tuhannya. Dengan begitu, sifat Tuhan sebagai Dzat yang Maha Pengasih dan Sumber Kebaikan akan dapat diterjemahkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Nilai-nilai kejujuran harus terus ditegakkan untuk melawan segala bentuk penyimpangan. Kita tentunya sangat prihatin dan sedih ketika kejujuran tidak lagi dianggap penting. Fenomena “budaya” korupsi yang dilakukan semakin massif dan terang-terangan, adalah potret buram bagi bangsa kita. Fenomena ini telah menjalar di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang sarat dengan praktik-praktik manipulatif. Nilai falsafah Jawa yang menyatakan “sopo sing jujur bakale mujur” (orang yang jujur akan beruntung) telah dicampakkan sedemikian rupa, dan diganti dengan slogan “sopo sing jujur malah kajur” (orang yang jujur akan hancur). Padahal kita tahu, bahwa kejujuranlah yang akan membawa kita pada ketenangan dan kedamaian. Kita mungkin saja bisa membohongi puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan orang, namun, kita tidak akan bisa membohongi hati nurani kita sendiri, apalagi membohongi Allah SWT.

Ketiga, dalam peristiwa Mi’raj Nabi berjumpa langsung dengan Allah SWT. Peristiwa ini merupakan puncak pengalaman spiritual manusia sekaligus kenikmatan yang sangat agung dan tak tertandingi oleh nikmat-nikmat lainnya. Namun, di sinilah nampak sifat keluhuran dan ke-luar biasaan Rasulullah SAW, di mana setelah bertemu dengan Tuhannya, beliau justeru masih mau turun lagi ke dunia untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan demi keselamatan umatnya. Seandainya Nabi adalah orang yang egois dan hanya memikirkan kepentingan dan keselamatan dirinya sendiri, niscaya beliau enggan untuk turun lagi ke dunia. Itulah bukti bahwa beliau adalah seorang manusia paripurna (insan kamil) sekaligus seorang sufi sejati, yang tidak hanya berpredikat shalih (memiliki kebaikan secara pribadi), tetapi juga seorang mushlih (yakni, orang yang memiliki kebaikan secara pribadi sekaligus mengupayakan orang lain agar menjadi baik).

Peristiwa ini mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak boleh terjebak pada kesalehan ritual-spiritual yang bersifat personal semata. Sebab kesalehan yang sejati adalah manakala seseorang bisa membangun relasi yang harmonis dan seimbang: baik antara dirinya sendiri dengan Tuhannya (hablun min Allah); antara dirinya dengan sesamanya (hablun min al-nas); maupun antara dirinya dengan alam dan lingkungan sekitarnya (hablun ma’a al-bi’ah).

Hadirin jama’ah Jum’at yang berbahagia,

Keempat, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi mendapat perintah yang sangat penting berupa perintah shalat. Demikian pentingnya shalat, sehingga perintah itu diterima langsung oleh Nabi tanpa melalui perantara Malaikat Jibril. “Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang menegakkan shalat berarti ia menegakkan agama, barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia menghancurkan agama”,  الصلاة عماد الدين فمن أقامها فقد أقام الدين ومن تركها فقد هدم الدين demikian sabda Nabi. Namun demikian, hal yang sesungguhnya paling penting adalah bagaimana kita mampu menjiwai dan menerapkan pesan-pesan moral yang terkandung dalam setiap ritual shalat itu. Jangan sampai kita memahami ibadah shalat hanya sebatas rutinitas dan “seremonial” belaka, tanpa disertai pemahaman tentang makna di dalamnya. Al-Qur’an menyebut orang-orang yang melakukan shalat sebagai “pendusta agama” dan bahkan dianggap celaka, manakala mereka melalaikan hikmah dan pesan-pesan moral yang terkandung di balik shalat yang dilakukannya, sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Ma’un: 3-4:

فويل للمصلّين, الذين هم عن صلاتهم ساهون.

Jama’ah Jum’at yang berbahagia,

Shalat mengajarkan kita tentang pentingnya disiplin dan menghargai waktu. Oleh karenanya, salah satu ciri dari kualitas shalat seseorang adalah sejauh mana ia mampu bersikap disiplin dan menghargai waktu di dalam kehidupannya. Di dalam shalat juga terkandung pesan tawadlu’ (rendah hati), sebab betapa di dalam shalat kita rela meletakkan kepala kita, yang merupakan mahkota atau anggota tubuh yang paling mulia, merunduk ke tempat sujud, sejajar dengan telapak kaki kita. Oleh karenanya, maka segala bentuk kesombongan dan kesewenang-wenangan jelas bukan sifat orang yang baik shalatnya. Selain itu, shalat juga mengajarkan kita akan pentingnya menebarkan nilai-nilai kedamaian, keharmonisan dan persaudaraan. Karena bukankah setiap kali kita mengakhiri shalat, kita selalu mengucapkan salam (assalamu’alaikum warahmatullah) sambil menoleh ke kanan dan ke kiri?!. Maka ciri lain dari orang yang baik shalatnya adalah ia senantiasa menebarkan rasa kedamaian, persaudaraan dan kasih sayang di tengah-tengah masyarakatnya. 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah Kedua:

الحمد لله الذي منّ علينا برسوله الكريموهدانا به إلى الدين القويم والصراط المستقيم, وأمرنا بتوقيره وتعظيمه وتكريمهوفرض على كلّ مؤمن أن يكون أحبَّ إليه من نفسه وأولاده وخليله, وجعل محبّتَه سببا لمحبّته وتفضيله, أشهد أن لا إله إلاّ اللهُ الرؤوفُ الرحيم, وأشهد أنّ محمّدا عبده ورسوله ذو الجاه العظيم, صلّى الله وسلَّم عليه وعلى سائر المرسلين, وآل كلٍّ والصحابة والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أمّا بعد, فيا أيّها الحاضروناتّقوا اللهَ حقَّ تُقاته, ولا تموتنّ إلاّ وأنتم مسلمونواعلموا أنَّ الله أمَركم بأمرٍ بدأ فيه بنفسه وثـنّى بملآئكته بقدسه, وقال تعالى إنَّ الله وملآئكته يصلّون على النبى يآأيها الذين آمنوا صلّوا عليه وسلّموا تسليما. اللهمّ صلّ على سيدنا محمد وعلى أنبيآئك ورسلك وملآئكتك المقرّبين, وارضَ اللهمّ عن الخلفاء الراشدين أبي بكر وعمر وعثمان وعليّ وعن بقيّة الصحابة والتابعين وتابعي التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين, وارض عنّا معهم برحمتك ياأرحم الراحمين. اللهمّ اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحيآء منهم والأموات, إنّك سميع قريب مجيبُ الدعوات. اللهمّ أعزّ الإسلام والمسلمين وَأَذِلَّ الشّركَ والمشركين وانصر عبادَك الْمُوَحِّدِين المخلِصين واخذُل مَن خذَل المسلمين ودَمِّرْ أعدآئَنا وأعدآءَ الدّين وأَعْلِ كلماتِك إلى يوم الدين. اللهمّ ادفع عنّا البلاءَ والوَباءَ والزَّلازِلَ والْمِحَنَ وسوءَ الفتنة ما ظهر منها وما بطن عن بَلَدِنا إندونيسيا خآصةً وعن سائرِ البُلدانِ المسلمين عآمة.

اللهم بارك لنا فى رجب وشعبان وبلغنا رمضان وحصل مقاصدنا، اللهم سلمنا إلى رمضان وسلم رمضان لنا وتسلمه منا متقبلا يا أرحم الراحمين، ربّنا آتنا في الدّنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النّار. عبادالله، إنّ الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلّكم تذكّرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكرالله اكبر. ربّنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. عبادَ الله! إنَّ الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتآء ذي القربى وينهى عن الفحشآء والمنكر والبغي يعظكم لعلّكم تذكّرون, واذكروا الله العظيم يَذْكُرْكُمْ واشكروه على نِعَمِهِ يَزِدْكم واسئلوه من فضله يُعْطِكم, وَلَذِكرُ اللهِ أكبر.