Senin, 20 April 2026

Naskah Khutbah Jum'at: "Memakmurkan Masjid"

 

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِيْ الْأَرْضِ بُيُوْتاً لِلْعِبَادَةِ، وَأَمْكِنَةً تَحْصُلُ فِيْهَا كُلُّ رَاحَةٍ وَسَعَادَةٍ، شَرَعَ لِعِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ التَّقَرُّبَ إِلَيْهِ بِعِمَارَةِ الْمَسَاجِدَ، وَتَهْيِئَتِهَا لِلرَّاكِعِ وَالسَّاجِدِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ جَعَلَ الْمَسْجِدَ مَنْطَلِقاً لِكُلِّ رِيَادَةٍ، وَمُجْتَمَعاً لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَمَرْكَزاً لِلْقِيَادَةِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ذَوَيْ الشَرَفِ وَالسِّيَادَةِ، الَّذِيْنَ عَمَّرُوْا الْمَسَاجِدَ طَلَباً لِجَنَّةِ اللهِ وَالزِّيَادَةِ. عِبَادَ اللَّهِ: اِتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى؛ فَإِنَّ فِيْ تَقْوَاهُ جَلَّ وَعَلَا سَعَادَةَ الدُّنْيَا والْآخِرَةِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.

Ma`syiral muslimin rahimakumullah,

Ada sebuah ungkapan, ikan tak bisa hidup jauh dari air. Sebentar saja ikan dipisahkan dari air, maka perlahan ia akan mati. Demikian pula hubungan antara seorang muslim dengan masjid, jangan sampai ia terpisah lama dari masjid. Karena lambat laun ia pun akan mengalami kematian. Bukan kematian fisik, tapi ruhani. Jiwanya gersang dan kering dari nilai-nilai spiritual yang memompa semangatnya menjalankan agama.

Masjid adalah rumah Allah. Masjid adalah tempat terbaik di muka bumi yang paling dicintai Allah. Di masa Rasul masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat mereguk dahaga spiritual lewat pelaksanaan shalat, tetapi juga menjadi tempat untuk menempa, membina, dan mendidik generasi muttaqin. Selain itu, di masa Nabi berbagai persoalan keummatan dan kemasyarakatan juga banyak dibahas dan diselesaikan di dalam masjid.

Bandingkan dengan keadaan di masa sekarang. Adakalanya masjid dibangun dengan megah, tinggi menjulang, penuh ornamen yang indah, namun sepi dari aktivitas dan jama’ah, tetangga kanan-kiri masjid pun seringkali hatinya tidak tergugah. Ada pula sejumlah masjid yang kondisinya kotor tidak terawat sehingga tidak memberikan kenyamanan beribadah di dalamnya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Masjid sebagai rumah Allah tentunya mengandung banyak kemuliaan di dalamnya. Imam Abu al-Laits Nasr bin Muhammad As-Samarqandi (301 H – 375 H, seorang ulama generasi tabi’ at-tabi’in) di dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin, menyatakan:

إِنَّمَا يَصِيرُ لِلْعَبْدِ مَنْزِلَةٌ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى إِذَا عَظَّمَ أَوَامِرَهُ، وَعَظَّمَ بُيُوتَهُ وَعِبَادَهُ، وَالْمَسَاجِدُ بُيُوتُ اللَّهِ، فَيَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يُعَظِّمَهَا فَإِنَّ فِي تَعْظِيمِ الْمَسَاجِدِ تَعْظِيمَ اللَّهِ تَعَالَى

Seorang hamba akan memperoleh kemuliaan dan kedudukan di sisi Allah manakala dia memuliakan perintah-perintah-Nya, memuliakan rumah-rumah-Nya dan para hamba-Nya. Dan masjid-masjid itu adalah rumah-rumah Allah. Maka sudah sepantasnya bagi setiap mukmin memuliakan masjid, sebab memuliakan masjid berarti memuliakan Allah SWT.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Memuliakan masjid bisa bermakna hissiyah dan ma’nawiyyah. Memuliakan masjid dalam pengertian hissiyah berarti membangun dan memelihara masjid dengan berbagai sarana dan kebutuhan fisik yang ada di dalamnya, termasuk menjaga kenyamanan, kebersihan dan keamanannya. Sedangkan memuliakan masjid secara ma’nawiyyah artinya meramaikan masjid dengan berbagai kegiatan shalat berjama’ah, dzikir, i’tikaf, pengajian, dan berbagai kegiatan lainnya. Inilah yang sesungguhnya lebih penting, sesuai fungsi masjid itu sebagai pusat dakwah, pengajaran dan pembinaan keagamaan, dan syiar ajaran Islam. Dan memuliakan masjid ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim.

Bagi orang-orang yang mau memakmurkan masjid, sedikitnya ada tiga keutamaan yang akan diperoleh. Pertama, sebagai bukti keimanannya kepada Allah SWT. Dalam al-Quran disebutkan bahwa ciri orang-orang beriman, di antaranya adalah orang yang memakmurkan masjid. Allah SWT berfirman :

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak memiliki rasa takut (kepada siapa pun) selain Allah, mereka adalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah. Maka merekalah orang-orang yang termasuk golongan orang yang mendapat petunjuk.” (QS: At-Taubah : 18).

Kemudian, Kedua, dengan memakmurkan masjid akan menghindarkan diri kita dari azab Allah. Dalam kitab ad-Durrul Mantsur fi at-Tafsiri bil Ma’tsur karangan Imam Jalaluddin As-Suyuthi (849 H – 911 H) tertulis sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Anas bin Malik RA,

إِنِّيْ لَأَهَمُّ بِأَهْلِ الأَرْضِ عَذَابًا  فَإِذَا نَظَرْتُ  إِلَى عُمَّارِ بُيُوْتِيْ وَالمُتَحَابِّيْنَ فِيَّ وَالمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَذَابِيْ عَنْهُمْ

Sesungguhnya Aku (Allah) ingin mengazab para penduduk bumi. Tetapi bila Aku melihat orang-orang yang memakmurkan masjid, melihat orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, dan orang-orang yang memohon ampunan kepada-Ku di waktu malam menjelang fajar, maka Aku hindarkan azab-Ku dari mereka.

Lalu, Ketiga, memuliakan masjid akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat seeorang. Nabi Muhammad  bersabda,

مَنْ تَطَهَّرَ فيِ بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلىَ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيْضَةً مِنْ فَرَائِضَ اللهِ كَانَتْ خُطْوَتَاهُ تَحُطُّ خَطِيْئَةً وَاْلأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَة

Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian dia pergi ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu dari kewajiban-kewajibannya kepada Allah, maka setiap langkah kakinya dapat menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajatnya.

Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah,

Berkaitan dengan kemuliaan orang yang memakmurkan masjid, ada satu kisah yang terjadi pada masa Nabi, yakni kisah seorang sahabat wanita Nabi berkulit hitam yang biasa disapa dengan sebutan Ummu Mahjan. Ummu Mahjan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memuliakan masjid, ia menyapu dan membersihkan masjid Nabawi setiap harinya hingga ia wafat.

Di suatu pagi, Nabi tidak melihat Ummu Mahjan seperti biasanya. Nabi bertanya kepada para sahabatnya, kemanakah Ummu Mahjan. Para sahabat menjawab, “Dia telah wafat.” Nabi bertanya kembali, “Mengapa kalian tidak memberitahuku?”. Sahabat menjawab, “Saat ia wafat, engkau tengah beristirahat dan hawa udara kala itu sangat panas. Kami tidak mau mengganggu istirahatmu wahai Nabi.” Nabi lalu berkata, “Tunjukkan kepadaku di manakah kuburannya”. Para sahabat lalu menunjukkan kuburan Ummu Mahjan, kemudian Nabi menshalatkannya. Selesai shalat Nabi berkata, “Jika salah seorang di antara kalian ada yang wafat, lekas beritahukan kepadaku untuk aku shalati. Sebab jenazah yang aku shalati di dunia, maka shalatku itu akan menjadi penolong untuknya di akhirat.

Setelah itu, dengan mukjizatnya di hadapan kuburnya Nabi memanggil Ummu Mahjan dan bertanya, “Salam sejahtera atasmu wahai Ummu Mahjan. Amal apakah yang paling utama di sisi Allah yang engkau dapati?”. Nabi lalu terdiam sejenak sembari menundukkan kepala untuk memperoleh jawaban. Tak lama kemudian, Nabi mengangkat kepalanya dan berkata kepada para sahabat, “Ia telah berkata kepadaku, ‘Aku tidak mendapatkan amalku yang lebih utama di sisi Allah selain amal berupa membersihkan masjid.” Kemudian Nabi bersabda, “Allah SWT telah membangunkan sebuah rumah di surga untuknya, di mana aku melihatnya sekarang ia sedang duduk di dalamnya.” (Kisah Ummu Mahjan ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ibnu Majah).

Kisah serupa juga pernah terjadi di zaman Wali Songo, yakni pada masa Sunan Ampel. Ada salah seorang murid Sunan Ampel bernama Mbah Sholeh. Dikisahkan bahwa selain sebagai santri Sunan Ampel yang taat dan setia, Mbah Sholeh merupakan santri yang rajin membersihkan masjid. Hingga suatu hari Mbah Sholeh wafat. Jasadnya dimakamkan di samping masjid. Sepeninggal Mbah Sholeh, Sunan Ampel tak menemukan sosok pengganti seperti Mbah Sholeh. Masjid jadi kotor dan kurang terawat. Saat itulah Sunan Ampel bergumam dalam hati, "Kalau saja Mbah Sholeh masih hidup, masjid ini pasti selalu bersih." Seketika itu, dengan karamah dan izin Allah tiba-tiba sosok Mbah Sholeh muncul kembali dan menjalankan rutinitas yang biasa dilakukan, yakni membersihkan masjid. Namun tak lama kemudian sosok Mbah Sholeh itu meninggal lagi dan dimakamkan di samping makam sebelumnya. Peristiwa tersebut terus berulang hingga sembilan kali. Mbah Sholeh baru benar-benar meninggal setelah Sunan Ampel wafat. Sampai saat ini, makam Mbah Sholeh masih bisa disaksikan berada di samping Masjid Ampel, berjumlah sembilan.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Demikianlah khutbah Jum’at pada hari ini. Marilah kita selalu hadir dalam memuliakan dan memakmurkan masjid. Kita ramaikan bersama-sama masjid ini dengan berbagai aktivitas ibadah, pengajian dan sebagainya yang membawa manfaat bagi umat dan masyarakat. Dengan begitu, in syaa’ Allah tiga keutamaan yang sudah disampaikan di atas, akan mewujud nyata dalam kehidupan kita di dunia maupun akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ  فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. 

Khutbah Kedua

الحمد لله الذي هَدانا للإسلام. وشرَّفنا باتِّباع هُدَى خيرِ الأنام. أحمدُه وأشكرُه الذي جعَل المساجدَ مأوى لأهلِ التقوى والعِرفان. وجعَل ارتِيادَها مِن علامات الإيمان. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، أَذِنَ أَن تُرفَعَ المساجدُ ويُذكَرَ فيها اسمُه. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَمَرَ بِبِنَاءِ المساجدِ وتَنظِيفِها وتَطيِيبِها. اللهم صلِّ على سيّدنا محمد وعلى آله وأصحابه وسلِّم تسليما. أمّا بعد، فيا أيّها المسلمون رحمكم الله، أوصيني نفسي وإيّاكم بتقوى الله وطاعته لعلّكم تُفلِحون. واعلموا أنَّ الله أمَركم بأمرٍ بدأ فيه بنفسه وثـنّى بملآئكته بقدسه, وقال تعالى: إنَّ الله وملآئكته يصلّون على النبى يآأيها الذين آمنوا صلّوا عليه وسلّموا تسليما. اللهمّ صلّ على سيدنا محمد وعلى أنبيآئك ورُسُلِك وملآئكتِك المقرّبين, وارضَ اللهمّ عن الخلفاء الراشدين أبي بكر وعمر وعثمان وعليّ وعن بقيّة الصحابة والتابعين وتابعي التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين, وارض عنّا معهم برحمتك ياأرحم الراحمين.

اللّهمّ اغفر للمؤمنين والمؤمنات، والمسلمين والمسلمات، الأَحياءِ منهم والأَمواتِ، إِنّك سميعٌ قريبٌ مُجِيبُ الدّعَوات. اللهم اختم لنا بالإسلام واختم لنا بالإيمان واختم لنا بحسن الخاتمة ولا تَختِم علينا بسوء الخاتمة. ربّنا آتنا في الدّنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النّار. فيا عباد الله، إنّ الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلّكم تذكّرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكرالله اكبر.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar