NASKAH KHUTBAH
NIKAH
(Oleh:
Dr. H. Mohamad Kholil, S.S., M.S.I.)
اَلحْمَدُ
للهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمآءِ بَشَراً فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكانَ
رَبُّكَ قَدِيرًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ،
أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمًا
كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ القَائِلِيْنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ
تَعَالَى أَحَلَّ النِّكَاحَ وَنَدَبَ إِلَيْهِ وَحَرَّمَ السِّفَاحَ وَوَعَدَ
بِالْعَذَابِ الأَلِيْمِ عَلَيْهِ، وَقَالَ تَعَالَى فِي تَحْرِيْمِهِ :﴿ وَلَا
تَقْرَبُوا الزِّنى إِنَّهُ كانَ فاحِشَةً وَسآءَ سَبِيلَا﴾ وَقَالَ فِي اٰيَةٍ
أُخْرَى: ﴿وَمِنْ آياتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْواجاً
لِتَسْكُنُوا إِلَيْها وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذلِكَ
لَاٰيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾ وَقَالَ: ياأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَآءً وَاتَّقُواْ اللَّهَ الَّذِي
تَسَآءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. وَقَالَ
اللهُ تَعَالٰى يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى
وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ وَقَالَ أَيْضًا وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ
وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ
يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ
النِّكَاحَ سُنَّةٌ مِنْ سُنَنِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَا وَاللهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ
لِلّٰهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لٰكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّيْ
وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ
مِنِّيْ. وَقَالَ أَيْضًا: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ
الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ،
وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. وَقَالَ
أَيْضًا: خَيْرُ النِّسَاءِ امْرَأَةٌ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ،
وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفَظَتْكَ فِي
نَفْسِهَا وَمَالِكَ.
Hadirin
dan hadirat yang berbahagia, segenap famili dan kedua mempelai yang dirahmati
Allah,
Puji
dan syukur yang tak terhingga marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Dzat
yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Shalawat dan salam
semoga tetap tercurah kepada panutan alam, yakni Baginda Nabi Besar Muhammad SAW,
nabi yang telah menuntun umatnya dengan sunah pernikahan. Shalawat dan
salam juga semoga tercurah kepada keluarganya, para sahabatnya, serta para tabi’in
dan tabi’ut tabi’in, hingga kepada kita semua selaku umatnya, terkhusus dua
calon mempelai yang akan melangsungkan akad pernikahan. Semoga dengan mengikuti
salah satu sunahnya ini, kita semua diakui sebagai umatnya dan kelak
mendapatkan syafaatnya. Amin ya rabbal ‘alamin.
Hadirin
dan hadirat, para tamu undangan dan kedua mempelai yang berbahagia,
Pernikahan
adalah sebuah ikatan suci yang sangat kuat yang disebut “mitsaqan ghalizhan”.
Pernikahan bukan sekadar bersatunya dua insan, melainkan juga menyatunya dua
keluarga, dua karakter, dan dua masa depan. Hari ini, kedua mempelai akan mengambil
sebuah tanggung jawab besar di hadapan Allah SWT dalam rangka untuk saling menjaga
separuh dari agama. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ
تَزَوَّجَ فَقَدْ أَحْرَزَ شَطْرَ دِيْنِهِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي الشَّطْرِ
الثَّانِي
Artinya:
“Barang siapa yang menikah, maka sejatinya ia telah menjaga separuh
agamanya. Maka selalu bertakwalah kepada Allah dalam separuhnya yang lain.”
(HR. ath-Thabarani).
Oleh
karenanya, dalam mengarungi bahtera rumah tangga, ada tiga pilar utama yang
harus senantiasa dipegang teguh oleh kedua mempelai:
1. Pernikahan
untuk Saling Melengkapi dan Menutupi Aib
Allah SWT
berfirman:
)هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ] (البقرة: 187[
bahwa
pasangan suami-istri adalah seumpama pakaian bagi satu sama lain. Artinya,
seorang suami adalah pakaian bagi istrinya, dan istri adalah pakaian bagi
suaminya. Pakaian berfungsi untuk menutupi aurat, menghangatkan, dan
memperindah. Begitu pula hendaknya suami dan istri; saling menutupi kekurangan,
menjaga kehormatan pasangan, dan menghiasi rumah tangganya dengan kasih saying.
2. Ketakwaan
dan Komunikasi yang Baik Merupakan Bekal Utama Pernikahan
Sebaik-baik
perbekalan dalam pernikahan adalah takwa kepada Allah, sebagaimana firman Allah
SWT:
﴿ وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ ﴾
[البقرة: 197]
Artinya:
“Persiapkanlah bekal oleh kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah
sikap taqwa”.
Sayyiduna Ali bin Abi Thalib KW pernah menyatakan, bahwa di antara cermin dari sikap taqwa adalah:
الخوف من الجليل ، والعمل
بالتنزيل ، والرضا بالقليل ، والاستعداد ليوم الرحيل
(Takut akan siksa dan kemurkaan Dzat Yang Maha Mulia (Allah SWT), mengamalkan ajaran atau perintah yang telah diturunkan oleh Allah, ridho atau “nrimo” atas segala anugerah Allah meskipun sedikit, dan mempersiapkan diri dengan amal sholeh untuk menghadapi saat hari kematian tiba).
Maka, jadikanlah ketaqwaan kepada Allah sebagai pusat kendali dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk saling menasihati dengan cara yang santun. Jika ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin, musyawarah, dan senantiasa bersabar serta bersyukur atas segala ketetapan-Nya.
3. Pernikahan
Adalah Ibadah Bersama untuk Meraih Berkah
Jadikan
pernikahan ini sebagai ladang ibadah. Shalatlah berjamaah, berdo’alah bersama
agar Allah senantiasa memberikan ketenangan, kelapangan rezeki, dan keturunan
yang shalih dan shalihah. Ingatlah bahwa sebesar apa pun ujian dalam rumah
tangga, ia akan terasa ringan jika diselesaikan dengan mendekatkan diri kepada
Allah SWT.
Bahkan,
masyhur dinyatakan di kalangan para ulama bahwa menikah merupakan sarana untuk melipatkan
pahala ibadah. Salah satunya Mu‘adz ibn Jabal, seorang sahabat Rasulullah, ia
pernah mengatakan,
صَلَاةُ
الْمُتَزَوِّجِ أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِيْنَ صَلَاةً مِنْ غَيْرِهِ
“Satu
kali shalatnya orang yang sudah menikah, lebih baik dari empat puluh kali
shalat orang yang tidak menikah.” Dengan kata lain, menikah karena Allah adalah
cara menjaga agama dan menyempurnakan pengamalannya. Siapa pun yang menjaga
agama, maka ia berhak mendapat perlindungan Allah. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ
نَكَحَ للهِ وَأَنْكَحَ للهِ اِسْتَحَقَّ وِلَايَةَ اللهِ
“Barang
siapa yang menikah karena Allah, dan menikahkan karena Allah, maka ia berhak
mendapatkan wilayah (perlindungan) Allah.” (HR. Ahmad).
Pernikahan
juga merupakan gerbang untuk meraih ketenangan hidup, ketenteraman, saling
menyayangi, serta meraih kebahagiaan bersama, sebagaimana firman Allah SAW di dalam
Al-Quran:
وَمِنۡ
ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا
وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّة وَرَحۡمَةًۚ
“Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia ciptakan untuk kalian istri-istri
dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang”.
(Q.S. Ar-Rum [30]: 21).
Ananda
kedua mempelai yang berbahagia,
Dalam
kehidupan berrumah tangga, ada aspek kewajiban dan hak bagi masing-masing suami
dan istri yang penting dipedomani. Di antaranya, bagi seorang suami hendaknya berlaku
baik dalam segala bidang dan urusan rumah tangga, mempergauli istrinya dengan
cara yang ma’ruf, baik dalam tutur kata maupun perbuatan. Di dalam al-Qur’an
Allah SWT berfirman:
وَعَاشِرُوْهُنَّ
بِالْمَعْرُوْفِ
“Dan
pergaulilah istri-istri kalian dengan cara yang baik.”
Demikian
pula Rasulullah SAW, beliau bersabda:
أَكْمَلُ
الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ
لِنِسَائِهِمْ
“Orang
mu’min yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik budi pekertinya, dan
orang pilihan diantara kalian ialah yang paling baik kepada istrinya”.
(HR.Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)
Dalam hadits yang lain, beliau
juga bersabda:
مَا أَنْفَقَ
الرَّجُلُ فِيْ بَيْتِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَخَدَمِهِ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Segala
sesuatu yang diberikan atau dinafkahkan oleh suami untuk rumah tangganya, untuk
istrinya, anak-anaknya maupun pembantunya, maka hal itu menjadi sedekah baginya”. (HR.
Tobroni)
Sebaliknya,
bagi seorang istri Rasulullah SAW juga bersabda:
وَالْمَرْأَةُ
رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ
“Seorang
istri memiliki tanggungjawab merawat rumah suami dan mendidik anak-anaknya.”
Dalam
hadits yang lain beliau juga bersabda:
خَيْرُ
النِّسَاءِ امْرَأَةٌ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا
أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفَظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ
“Sebaik-baik
istri adalah apabila engkau menatapnya maka terasa menggembirakan bagimu, apabila
engkau memerintahkan kebaikan maka ia mentaatimu, dan apabila engkau meninggalkan
rumah maka ia akan menjaga hartamu dan martabat dirinya.”
Ananda
[Mempelai Pria] yang berbahagia,
Sebentar
lagi ananda akan mengucapkan janji suci di hadapan Allah, di hadapan para saksi
dan dua keluarga besar. Sadarilah bahwa amanah besar kini akan berpindah dari
kedua orang tua mempelai wanita ke pundak ananda. Semoga Allah SWT senantiasa
memberikan taufiq dan bimbingan-Nya, melimpahkan keberkahan dan kebaikan, serta
menjadikan rumah tangga yang akan dijalani sebagai rumah tangga yang sakinah,
mawaddah wa rahmah, dan dianugerahi keturunan yang shalih dan shilihah. Aamin
ya Rabbal ‘alamin.
Demikian
khutbah nikah ini disampaikan, semoga bermanfaat.
اَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَاَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِوَالِدَيْكُمْ وَلِمَشَايِخِيْ
وَمَشَايِخِكُمْ وَلِسَاۤئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
(أَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ
إِلَيْهِ X٣ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّه ِX٣ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar